Sifat mandi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

By: andhiena

Oct 25 2007

Category: Fiqh

Leave a comment

Sifat mandi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang sempurna yang mencakup fardu-fardunya, kewajiban-kewajibannya, dan hal-hal yang disunnahkan ketika mandi adalah sebagai berikut :

Dari “Aisyah berkata: Adalah Rosulullah jika mandi karena janabah dia mulai dengan membersihkan kedua tangannya57, kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudlu (dalam riwayat yang lain sebagaimana wudlunya untuk sholat 58)(dalam riwayat Maimunah : selain kedua kakinya 59), kemudian dia mengambil air lalu dia masukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut (dalam riwayat yang lain : kemudian dia menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga jika dia telah merasa bahwasanya telah mengena kulit kepalanya maka dia menumpahkan air ke kepalanya 60), lalu menyiram kepalanya dengan tiga genggam air (dalam riwayat lain : dia mulai dengan bagian kanan kepala lalu yang kiri61) , kemudian mengguyur seluruh tubuhnya (dalam riwayat lain : ke seluruh kulit (tubuh) beliau 62) dan mencuci kedua kakinya. (Hadits riwayat Bukhori Muslim dan ini adalah lafal yang terdapat di Muslim, sedangkan tambahan-tambahan riwayat yang lain ada di Bukhori)

Dalam riwayat Bukhori dan Muslim juga dari hadits Maimunah, dia berkata : Aku meletakkan bagi Nabi air untuk (mandi) janabah. Lalu dia memiringkan (tempat air tersebut ) dengan menggunakan tangan kanannya ke tangan kanan kirinya dua kali atau tiga kali. Kemudian mencuci kemaluannya (dalam riwayat lain : dan kotoran yang ada padanya 63) (dalam riwayat lain : dengan tangan kirinya) lalu memukulkan (dalam riwayat lain : menggosok64) tangannya ke bumi atau ke tembok (dalam riwayat lain : ke tanah 65) dua kali atau tiga kali (dalam riwayat lain :kemudian mencuci tangannya itu66), kemudian berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke hidung) lalu mencuci wajahnya dan mencuci kedua lengannya kemudian menumpahkan air ke kepalanya, lalu mencuci seluruh tubuhnya, lalu berpindah tempat , lalu mencuci kedua kakinya. Lalu aku memberikannya secarik kain dan dia tidak mau (dalam riwayat lain : sapu tangan tapi dia menolaknya 67) lalu dia mengeringkan air dengan kedua tangannya”.

1. Berniat

Menurut Hanafiyah, berniat hanyalah sunnah (lihat fiqh wudlu dalam pembahasan niat ). Adapun menurut jumhur adalah wajib. 6 8 Yaitu berniat dalam hatinya untuk mandi besar, berdasarkan hadits Umar bin Al-Khoththab Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.” 6 9

Untuk masalah niat ada empat keadaan :

(1) Dia berniat untuk mengangkat dua hadats (hadats besar dan
kecil) secara sekaligus, maka kedua hadats tersebut
terangkat . Sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalaam:

Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.”

HR. Bukhori dan Muslim


(2) Dia hanya berniat untuk mengangkat hadats besar saja.
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah maka hadats kecilnya
pun otomatis terangkat (dan ini juga merupakan pendapat
Syaikh As-Sa’di). Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla
maka jika dia telah bersuci dengan niat untuk

mengangkat hadats besar maka ini telah cukup untuk dia,

karena Allah Azza wa Jalla tidak menyebutkan hal-hal yang lain

selain bersuci. Dan inilah pendapat yang benar.

(3) Dia berniat untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh
dilaksanakan kecuali dengan wudlu. Misalnya sholat . Jika dia
berniat mandi untuk sholat dan tidak berniat untuk
mengangkat hadats maka otomatis terangkat dua hadats
dari dirinya, sebab sholat tidak sah kecuali dengan
terangkatnya dua hadats.

(4) Dia berniat untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh
dilakukan kecuali dengan mandi (dan tidak mengapa tanpa
wudlu). Misalnya membaca Al-Qur’an atau untuk berdiam di
mesjid (bagi yang berpendapat demikian). Jika dia mandi
dengan niat untuk membaca Al-Qur’an dan dia tidak berniat
untuk mengangkat dua hadats maka yang terangkat
hanyalah hadats besar saja. Sehingga jika dia ingin sholat
atau ingin menyentuh mushaf (bagi yang berpendapat
demikian) maka dia harus berwudlu. Namun kenyataannya
sekarang, kebanyakan manusia mandi dengan niat untuk
mengangkat hadats besar atau untuk sholat , maka
terangkatlah kedua hadats mereka.
7 0

2. Membaca bismillah

Dan hukumnya adalah mustahab menurut jumhur, adapun menurut Hanabilah adalah fardlu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu 7 1 . Namun Hanabilah menganggap bahwasanya hukum membaca bismillah ketika mandi adalah lebih ringan daripada ketika wuldlu, sebab hadits Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu tersebut hanya jelas mencakup wudlu dan tidak yang lainnya. 7 2

3. Mencuci kedua telapak tangannya

4. Mencuci kemaluan dengan tangan kiri dan menghilangkan kotoran yang terdapat di kemaluannya

5. Membersihkan tangan kiri tersebut di tanah dan mengusapnya dengan tanah yang suci kemudian di cuci

Yaitu Membersihkan tangan kiri tersebut di tanah dan mengusapnya dengan tanah yang suci dan menggosoknya dengan baik, kemudian di cuci berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Maimunah atau menggosokan tangan kiri ke dinding kemudian mencucinya sesuai dengan hadits Maimunah atau mencucinya dengan air dan sabun.

6. Berwudlu

Para Ulama khilaf tentang berwudlu ketika mandi janabah, apakah hukumnya wajib atau hanya mustahab. Adapun nukilan Ijma ’oleh Ibnu Battol bahwasanya wudlu hukumnya sunnah adalah tertolak. Abu Tsaur, dan Dawud, serta yang lainnya telah berpendapat bahwasanya mandi tidak bisa mewakili wudlu. Namun kebanyakan para ulama berpendapat akan tidak wajibnya berwudlu ketika mandi janabah dan bahwasanya hadats kecil telah masuk ke dalam hadats besar (namun tidak sebaliknya) 7 3 . Adapun menurut Hanafiyah harus disertai dengan niat wudlu juga Dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm dan yang lainnya, dan ini adalah pendapat yang benar. Sebab hanya sekedar perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak bisa menunjukan akan wajibnya, dan tidak ada dalil yang menunjukan akan wajibnya. 74 Adapun perincian cara berwudlu lihat penjelasan no 9 di bawah ini.

Perlu diperhatikan bahwasanya, jika seseorang telah mandi wajib dengan sah (dengan niat mengangkat hadats besar dan hadats kecil, lihat penjelasan tentang niat pada no 1 di atas), dan setelah mendi tersebut dia belum batal wudlu, maka dia tidak perlu berwudlu lagi. Dalilnya :

‘Aisyah berkata : “Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah berwudlu setelah mandi”. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata kepada seorang laki-laki yang bertanya kepada :”Aku berwudlu setelah mandi ?”, maka Ibnu Umar berkata kepadanya :”Kamu telah berlebih-lebihan ”

Berkata Syaikh Al-Albani : “Dzohir dari hadits bahwasanya yang sunnah adalah wudlu sebelum mandi bukan setelah mandi, dengan dalil hadits ‘Aisyah yang lain (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim -pent )……, dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang berwudlu sebelum mandi kemudian berwudlu lagi setelahnya maka dia telah berlebihan, dan barangsiapa yang mencukupkan wudlu setelah mandi (dia tidak berwudlu sebelum mandi tetapi sesudahnya pent ) maka dia telah menyelisihi sunnah.” 7 5

Pertanyaan 1 : Apakah mandi biasa (bukan mandi junub) tanpa wudlu, namun dengan niat mengangkat hadats kecil sudah cukup bagi kita?, sehingga setelah mandi kita boleh sholat tanpa wudlu lagi?

Jawab : Adapun mandi yang tidak disyari’atkan atau mandi biasa yang untuk membersihkan tubuh atau untuk mendinginkan tubuh maka hal ini tidak bisa mewakili wudlu (hadats kecilnya belum hilang), sebab mandi tersebut bukan termasuk ibadah, walaupun memang syari’at memerintahkan kita untuk berbuat bersih tetapi kebersihan bukan dengan cara seperti ini, bahkan kebersihan secara mutlak dengan apa saja yang bisa menimbulkan kebersihan. Dan bagaimanapun mandi untuk mendinginkan tubuh atau untukmembersihkan wudlu maka tidak bisa mewakili wudlu. 7 6

Pertanyaan 2 : Jika seseorang mandi biasa (atau dia mandi junub lantas dia menyentuh kemaluannya dengan syahwat ) kemudian dia berwudlu dalam keadaan telanjang, apakah wudlunya sah ?

Jawab : Wudlunya sah, namun yang lebih baik seseorang jika telah selesai mandi hendaknya dia memakai baju agar auratnya tidak tetap terbuka tanpa adanya hajah. 7 7

7. Memasukkan jari-jari ke air kemudian menyela-nyela rambut dengan jari-jari tersebut hingga ke kulit kepala.

Lalu menyiram kepalanya dengan tiga cidukan dengan kedua tangannya, sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah. Dia mulai dengan menyirami bagian kanan kepala kemudian bagian kiri kemudian bagian tengah kepala, sesuai dengan hadits ‘Aisyah.

Dan hukum mencuci kulit kepala adalah wajib baik rambutnya tebal maupun tipis, termasuk juga mencuci kulit dagu yang ditumbuhi jenggot . Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwasanya dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang mandi janabah, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :

Salah seorang dari kalian mengambil air lalu dia bersuci dan membaguskan bersucinya tersebut , lalu menyiram kepalanya dan menggosokkannya hingga sampai ke akar rambut , lalu mengguyurkan air di atas kepalanya. (Riwayat Muslim)

Mengenai rambut wanita, terjadi khilaf diantara para ulama. Namun yang rojih adalah bagi wanita tidak perlu menguraikan rambutnya ketika mandi karena janabah sesuai dengan hadits Ummu Salamah, dia berkata :

Aku berkata : Ya Rosulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang mengikat rambutku. Apakah aku membukanya untuk mandi janabah ?”, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : ”Tidak”, tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali”. 7 8

Dan disunnahkan bagi wanita untuk menguraikan rambutnya ketika mandi karena haidh sesuai dengan hadits ‘Aisyah, yaitu Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya ketika dia sedang haidh : Ambillah airmu dan daun bidaramu dan bersisirlah7 9

Dan tidaklah mungkin bisa bersisir kecuali dengan membuka ikatan rambut .

Adapun hadits Ali adalah dlo ’if yaitu bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

Barang siapa yang meninggalkan tempat sehelai rambut karena janabah yang tidak tersentuh air, maka Allah akan melakukan ini dan itu baginya dari neraka.8 0

Bagaimana dengan rambut yang terurai ?

Maka mencucinya adalah wajib menurut Syafi’iyah (dan ini juga
merupakan pendapat Hanabilah yang paling rojih), mereka
berdalil dengan hadits Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu yang
dho’if yaitu bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
bersabda :

Sesungguhnya dibawah setiap rambut adalah janabah, maka cucilah rambut dan bersihkanlah kulitnyat .8 1

Adapun menurut Hanafiyah dan Malikiyah tidak wajib berdasarkan hadits Ummu Salamah yang telah lalu. 8 2

8. Menyiramkan air ke kepala dan seluruh tubuh.

Sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah, dimulai dengan menyirami bagian kanan tubuh kemudian yang kiri sesuai dengan hadits ‘Aisyah :

“Adalah menyenangkan Rosulullah untuk memulai dengan yang kanan ketika memakai sendal, menyisir rambut , ketika bersuci, dan dalam semua keadaan”. 8 3

Dan hendaknya dia memperhatikan untuk mencuci kedua
ketiaknya dan bagian-bagian tubuh yang terlipat dan pangkal
kedua paha sesuai hadits ‘Aisyah, dan dia menggosok badannya
jika kesucian bagian tersebut tidak bisa sempurna tanpa
digosok. 8 4 .

Apakah wajib baginya untuk beristinsyaq dan berkumurkumur atau yang lainnya ?

Hanabilah dan Hanafiyah mewajibkan berkumur-kumur dan beristinsyaq karena harus mengenai seluruh tubuh. Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah bahwasanya berkumur dan beristinsyaq hanyalah sunnah sebagaimana disunnahkan ketika berwudlu 8 5

9. Berpindah tempat kemudian mencuci kedua kaki.

Adapun mengulangi mencuci kaki (setelah mencucinya ketika wudlu) maka hal ini tidaklah jelas dalam hadits. Hal ini (yaitu mencuci kaki ketika wudlu) merupakan istimbat dari lafal (sebagaimana wudlunya ketika akan sholat ), karena dzohir ِ lafal ini mencakup mencuci kedua kaki juga dan juga merupakan istimbat dari lafal (kemudian dia mencuci seluruh badannya) karena lafal ini juga mencakup mencuci kedua kaki.

Bahkan telah ada lafal yang jelas dalam shohih Muslim (1/ 17 4) dengan lafal (kemudian dia menyirami seluruh tubuhnya lalu mencuci kedua kakinya). Namun dalam hadits Maimunah dalam riwayat Bukhori, (Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudlu sebagaimana wudlu ketika sholat selain kedua kaki), dan ِ (kemudian dia berpindah lalu mencuci kedua kakinya). Dan ini adalah nash akan bolehnya mengakhirkan mencuci kedua kaki ketika mandi, berbeda dengan hadits ‘Aisyah. Dan mungkin Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan kedua cara ini, terkadang dia mencuci kedua kakiknya ketika wudlu dan terkadang beliau beliau berwudlu namun beliau mengakhirkan mencuci kedua kakinya. 8 6

Dan hendaknya janganlah dia berlebih-lebihan ketika menggunakan air, jangan telalu berlebih-lebihan dan jangan pula sebaliknya.

57 Demikian juga terdapat dalam riwayat Bukhori no 262, namun dengan lafal mufrod.
Sedangkan Abu Dawud juga dengan lafal mutsanna (Fathul Bari 1/374)
58 Riwayat Bukhori no 23 8

59 Riwayat Bukhori no 24 9
60 Riwayat Bukhori no 27 2
61 Riwayat Bukhori no 25 8
62 Riwayat Bukhori no 24 8

63 Riwayat Bukhori no 24 9

64 Riwayat Bukhori no 26 0,266
65 Riwayat Bukhori no 25 9
66 Riwayat Bukhori no 25 9,260
67 Riwayat Bukhori 259

68 Al-Fiqh Al-Islami 1/373

69 Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim

70 As-Syarhul Mumti ’ 1/308-309

71 Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Albani di al-irwa’ no 8 1, yaitu hadits “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudlu dan tidak ada wudlu bagi orang yang tidak menyebutkan nama Allah atasnya

72 Al-Fiqh Al-Islami 1/373

73 Dalilnya adalah hadits Jabir bin Abdillah, bahwasanya penduduk Tho’if berkata :”Wahai
Rosulullah, sesungguhnya tanah (negeri) kami adalah tanah yang dingin, maka mandi
apakah yang cukup bagi kami ?, maka Rosulullah berkata : “Adapun saya maka saya mengguyur kepala saya tiga kali” (Riwayat Bukhori no 254), dan hadits ini dijadikan dalil oleh Baihaqi tentang masalah ini ( masalah tidak mengapa mendi tanpa wudlu). Selain itu disebutkan dalam Shohih Sunan Abi Dawud no 244 bahwasanya Rosulullah sholat dengan mandi yang beliau tidak wudlu di mandi tersebut baik sebelumnya maupun sesudahnya. (Tamamul Minnah hal 129)

74 Tamamul Minnah hal 130

75 Tamamul Minnah hal 129

76 Majmu’ fatawa Syaikh Utsaimin 4/228, 229
77 Majmu’ Fatawa 4/2 27

78 Riwayat Muslim, adapun dalam lafal yang lain “Apakah aku menguraikan rambutku untuk (mandi) karena haidl ?, Rosulullah menjawab :”Tidak”, tambahan ini adalah riwayat yang syadz sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. (Irwaulgolil 1/165)

79 Riwayat Bukhori, dan dalam riwayat yang lain (lepaskan ikatan rambutmu dan bersisirlah), lihat Irwaul golil no 134.

80 Riwayat Abu Dawud dan Ahmad. Hadits ini dho’if (lihat Irwail golil no 133)

81 Riwayat Abu dawud dan Thirmidzi dan keduanya mendlo ’ifkan hadits ini (lihat Subulus Salam)

82 Al-Fiqh l-Islami 1 /373

83 Bukhori (Al-Fath 1/269) dan Muslim 1/22 6

84 Lihat Syarhul ‘Umdah Ibnu Taimiyah 1/368 sesuai dengan hadits ‘Aisyah riwayat Muslim 1/260 :

85 Al-Fiqh Al-Islami 1/372,3 73. Syaikh Utsaimin berpendapat jika seseorang mandi lalu tidak berkumur-kumur dan beristinsyaq maka mandinya tidak sah ( majmu ’ fatawa 4/229)

86 Irwaul golil 1/170

Ditulis ulang dari ebook Maktabah Abu Salma, Sifat Mandi Janabat Menurut Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Penulis Al-Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin bin ‘Abidin as-Soronji (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah).

© copyleft andhiena.multiply.com

I ♥ comment, your comment make me happy :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: